skip to main | skip to sidebar

About me

Unknown
Lihat profil lengkapku

Arsip

  • 2pm (1)
  • Artikel (1)
  • Bank Lembaga Keuangan (4)
  • Bank Lembaga Keuangan 2 (8)
  • coretan (11)
  • iseng (9)
  • junho (1)
  • jurnal (1)
  • Kim Myungsoo (1)
  • Kliring (3)
  • kpop (3)
  • L (1)
  • lyrics (11)
  • Paper (2)
  • photo (1)
  • so eun (1)
  • song (17)
  • Sooyouny (1)
  • Teori Ekonomi 1 (10)
  • Teori Ekonomi 2 (7)
  • translete (1)
  • tugas (13)
  • tulisan (12)

Archivo del blog

  • ▼ 2012 (23)
    • ▼ Desember (3)
      • edit ..
      • I Think The Tears Flow When Thinking ABout Y...
    • ► Juni (7)
    • ► Mei (2)
    • ► April (2)
    • ► Maret (5)
    • ► Februari (2)
    • ► Januari (2)
  • ► 2011 (49)
    • ► November (7)
    • ► Oktober (4)
    • ► Juli (3)
    • ► Juni (3)
    • ► Mei (4)
    • ► April (6)
    • ► Maret (10)
    • ► Februari (7)
    • ► Januari (5)
  • ► 2010 (37)
    • ► Desember (2)
    • ► November (9)
    • ► Oktober (6)
    • ► September (6)
    • ► Mei (1)
    • ► April (8)
    • ► Maret (1)
    • ► Januari (4)
  • ► 2009 (5)
    • ► Desember (5)

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

aLone

aLone

linkz

  • ejournal gunadarma
  • elearning gunadarma
  • http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/prihantoro/
  • library gunadarma
  • ocw gunadarma
  • repository gunadarma
  • stafsite gunadarma

chaT bOx

m.u.s.i.c


MusicPlaylist
Music Playlist at MixPod.com

twitter


...

Kamis, 16 Februari 2012

Jurnal Elastisitas



DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI HARGA BAHAN BAKAR MINYAK TERHADAP KINERJA INDUSTRI HASIL HUTAN KAYU

Subsidi harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dihitung sebagai selisih antara penjualan dalam negeri produk BBM dengan komponen biaya pokok pengadaan BBM. Kenaikan harga BBM dikhawatirkan mendorong lebih jauh penurunan kinerja industri hasil hutan kayu, khususnya dalam hal penawaran dan permintaannya. Kenaikan harga BBM dengan adanya subsidi dari pemerintah cenderung inelastis, hal ini dikarenakan terbatasnya barang substitusi dan komplementer dari BBM tersebut. Selain itu, total revenue sangat dipengaruhi oleh subsidi dari pemerintah kepada perusahaan industri kayu tersebut.

THE IMPACT OF ADVERTISING ON CONSUMER PRICE SENSITIVITY IN EXPERIENCE GOODS MARKET

Iklan dapat mempengaruhi tingkat permintaan suatu barang.  Akan tetapi, pengaruh dari iklan tersebut sangat bergantung dari tampilan, kemenarikan, dan seberapa intens iklan tersebut. Dalam kasus ini, peneliti meneliti barang-barang yang elastis, sehingga iklan yang menguntungkan dan lebih berpengaruh pada elastisitas harga adalah iklan yang tidak menurunkan elastisitas permintaan. Hal ini terjadi karena ketika elastisitas harga suatu barang naik, maka permintaan barang tersebut akan turun karena terdapat barang-barang alternatif atau subtitusi lainnya. Sebagai tambahan, keadaan tersebut dapat menyebabkan produsen baru untuk masuk ke dalam pasar.

Permasalahan mengenai elastisitas permintaan terhadap air di USA dan Eropa.

Diterapkan penggunaan tarif untuk pemakaian air di setiap perumahan. Ternyata terdapat kesenjangan yang cukup besar antara elastisitas harga dan elastisitas penghasilan. Bila digambarkan elastisitasnya mendekati 0, nilai elastisitas yang mendekati 0 ini disebabkan oleh adanya pemakaian air yang tidak terkontrol di masyarakat sehingga ada ketidaksesuaian antara jumlah air yang dipasok dengan jumlah air yang dipakai. Akibatnya di USA diadakan penelitian untuk mengurangi kesenjangan di elastisitas tersebut. Metode yang digunakan antara lain metode increasing block rate tarif yang hasilnya adalah kebutuhan air menjadi lebih elastis dan elastisitas pendapatan menurun dan metode decreasing block rate tarif yang hasilnya berbanding terbalik dengan metode increasing block rate tarif. Namun dalam kenyataannya dari kedua metode ini kita tidak bisa menentukan mana yang akan menghasilkan elastisitas tertinggi karena hal ini bergantung pada kompleksitas masalah yang ada seperti kondisi geografis lingkungan, suhu, cuaca, dsb.

Price Elasticity Dynamics Over The Product Life Cycle: A Study Of Consumer Durables

Suatu produk pada umumnya mengalami tingkat inelastisitas tertinggi pada fase awal siklus hidup produk. Sedangkan produk tersebut mengalami elastisitas pada saat pembelian kembali pada fase puncak (maturity) di mana tingkat penjualan mencapai tingkat tertinggi. Setelah tahap maturity produk akan memasuki fase decline (penurunan). Pada fase ini, produsen perlu memperbaharui kembali produknya agar konsumen tidak mengalami kejenuhan. Sebab persaingan semakin ketat dan mencapai tingkat elastisitas tertinggi.

Economic Impact of Tourism and Globalization in Indonesia

Adanya hubungan antara harga yang menurun, permintaan, dan income yang berjalan semakin tinggi didalam kasus perdagangan bebas / liberalisasi yang menyebabkan pemerintah membuat kebijakan dengan mengurangi tarif impor dan pengenaan pajak pada komoditas domestik yang berdampak pada penurunan harga domestic. Walaw merangsang produsi dalam negeri dan meningkatkan lapangan pekerjaan serta meningkatkan PDB, namun hal ini menyebabkan neraca perdagangan memburuk.  Dapat disimpulkan bahwa ini bersifat elastis. Untuk mencegah terjadinya inelastis maka pemerintah seharusnya membuat kebijakan untuk menaikan harga saja dan menurunkan tarif pajak.

Estimating the Effect of Urban Density on Fuel Demand

Kepadatan jumlah penduduk di perkotaan  dapat mempengaruhi permintaan relatif untuk bahan bakar transportasi jalan, memberikan perkiraan elastisitas yang sensitif terhadap pola fasilitas umum . Kepadatan penduduk kota terhadap permintaan bahan bakar yaitu inelastic, fenomena di kota yang terjadi, karena banyaknya fasilitas yang disediakan oleh pemerintah maka jarak yang di tempuh penduduk di perkotaan relative singka. Harga BBM mempengaruhi permintaan bahan bakar sebagian besar melalui variasi dalam konsumsi bahan bakar per km dan jarak mengemudi bukan kepemilikan mobil. Hal ini dapat mencerminkan harga bahan bakar tidak mempengaruhi permintaan mobil.

Impact of Advertising

Rating iklan bisa muncul akibat dari penilaian dari pihak konsumen yang menilai apakah iklan tersebut memiliki citra yang kuat, jadi semakin tinggi nilai rating maka kepercayaan semakin sangat tinggi, hal ini akan mempengaruhi elastisitas konsumen dalam membeli barang karena semakin konsumen percaya akan suatu produk maka daya belinya akan semakin tinggi.

Regional Differences in the Price-Elasticity of Demand for Energy
Harga listrik naik maka terdapat tiga alternatif solusi yang dapat dilakukan : mengganti secara total, mencari substitusinya, dan  meminimalisir penggunaan listrik. Kenaikan demand dapat dipengaruhi oleh kenaikan income, income meningkat konsumen dapat saja membeli peralatan elektronik baru sehingga meningkatkan penggunaan listriknya(demand). Elastisitas dipengaruhi dengan adanya barang substitusi dan barang komplementer. Untuk kasus  jika harga listrik naik, maka dalam jangka pendek elastisitasnya bersifat inelastis karena untuk sementara waktu konsumen tidak memiliki pilihan hanya dapat mencoba menghemat atau mengurangi penggunaan listrik dan belum banyak barang substitusinya sehingga konsumen tidak memiliki pilihan lain selain tetap menggunakannya. Dan dalam jangka panjang, elastisitasnya bersifat elastis karena mungkin saja telah ditemukan inovasi – inovasi baru yang dapat menjadi subsitusi listrik.

Life Insurance Demand Determinants

Saat terjadinya krisis ekonomi, permintaan akan asuransi di Asia bersifat elastis. Hal ini disebabkan adanya krisis, maka perekonomian terganggu dan mengurangi pendapatan masyarakat di Asia. Rendahnya pendapatan membuat mereka mengutamakan untuk konsumsi.Maka perubahan harga asuransi akan sangat mempengaruhi jumlah permintaan akan asuransi.
Kemudian, dengan adanya perbaikan ekonomi setelah adanya  krisis membuat pendapatan masyarakat asia terus meningkat dan memiliki pendapatan yang cukup tinggi sehingga membuat standar hidup masyarakat semakin tinggi dan makin sadar akan pentingnya asuransi. Dengan demikian, permintaan terhadap asuransi pasca krisis ekonomi hinggga kini bersifat inelastic, atau perubahan harga asuransi tidak akan terlalu mempengaruhi jumlah permintaannya.

Rokok di Amerika Serikat

Rokok itu bersifat inelastis sehingga menaikkan pajak dan dapat menghasilkan banyak pendapatan di Amerika Serikat. Namun, dengan adanya internet, konsumen dapat membeli rokok dari negara lain atau secara online sehingga konsumen tidak perlu membayar pajak kepada negaranya. Tingkat elastistasnya juga meningkat dari -1,28 menjadi -2,09 walaupun pajak sudah di naikkan 33%. Maka dapat disimpukan bahwa pajak rokok tdak sensitif terhadap permintaan rokok di Amerika Serikat.

Pentingnya Relatif Harga & Kualitas Pilihan Penyedia Layanan Konsumen : Kasus Mesir

Berdasarkan asumsi penyedia terlibat dalam persaingan harga, misalnya elastisitas kualitas meningkat, maka penurunan harga kemungkinan besar dicapai dengan efisiensi. Tapi kalau permintaannya inelastis, persaingan harga dapat menyebabkan kualitas yang rendah. elastisitas pendapatan pengeluaran perawatan kesehatan > 1 , dimana itu berarti bersifat elastis. Ini berarti seiring dengan bertambahnya pendapatan, maka porsi dari pendapatan juga akan lebih besar untuk pergi ke pelayanan kesehatan. Tetapi hal ini tidak berlaku rata pada seluruh kalangan masyarakat, walaupun rata-rata masyarakat memang lebih responsive terhadap peningkatan kualitas, ini dikarenakan ada dua golongan income masyarakat.

Perusahaan Bahan Bakar di Swiss

Efek jangka panjang yang akan terjadi adalah kemungkinan pendapatan substansian dalam  biaya transportasi terutama dalam harga BBM membuat orang bereaksi mengatur jarak tempuh dan mengubah jenis mobil dan memilih mesin yang lebih kecil atau lebih hemat bahan bakar seperti mobil hibrida/ diesel. Untuk jangka panjang, elastisitas harga bensin berkisar antara -0,14 sampai -0,54 dan diesel 0,32. diesel disini merupakan bahan pengganti yang disebabkan oleh responden yang mengganti mobil BBMnya jadi mobil diesel. Harga BBM naik tidak berarti menaikan atau menurunkan permintaan dari BBM tersebut, masyarakat lebih melihat efisiensi dari penggunaan bahan bakar yaitu dengan menggantinya dengan diesel.

Determinants of Indonesian Palm Oil Export: Price and Income Elasticity Estimation

Indonesia adalah produsen dan eksportir terbesar minyak sawit di dunia karena berhasil menguasai 46% pangsa pasar minyak sawit dunia. Sebagian besar dari produksinya diekspor. Sehingga, memperkirakan elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan untuk ekspor minyak sawit Indonesia sangat penting. Elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan ekspor minyak sawit Indonesia adalah inelastic baik untuk jangka pendek dan jangka panjang.
Inelastis pada minyak sawit terjadi karena:
1.       Efek barang substitusi terhadap perubahan harga tidak terlalu besar
2.       Pilihan produk-produk lainnya sebagai barang pengganti jumlahnya tidak banyak

THE IMPACT OF FOOD PRICES ON CONSUMPTION: A SYSTEMATIC REVIEW OF REASERCH ON THE PRICE ELASTICITY OF DEMAND FOR FOOD

Fenomena yang terjadi di Amerika adalah elastisitas permintaan harga pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat. Maka diberlakukan pajak pada makanan tidak sehat dan subsidi pada makanan sehat agar tingkat konsumsi pada makanan sehat.  Dengan pemberlakuan subsidi terhadap harga buah buahan dan sayur mayur menyebabkan penurunan harga sebesar 10%, dan berhasil meningkatkan permintaan akan buah dan sayur sebesar 7,0% untuk buah dan 5,8% untuk sayur, besarnya penurunan harga rupanya tidak meningkatkan permintaan secara signifikan sehingga harga buah dan sayur dikatakan inelastis. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa walaupun subsidi telah diberikan, pada kenyataannya tidak dapat meningkatkan peningkatan permintaan secara signifikan disebabkan gaya hidup masyarakayt amerika yang lebih menyukai makanan tidak sehat seperti makanan cepat saji.

Trade Liberalization and Labor Demand Elasticity in Indian Manufacturing

Elastisitas permintaan tenaga kerja di industry India meningkat karena adanya liberalisasi perdagangan. Hal itu berdasarkan survei tahunan data industri pada 1980-81 ke 1997-98 dan tren dalam elastisitas dianalisa menggunakan data 1973-74 ke 2003-04. Hal ini juga dikuatkan oleh hasil ekonometrik penelitian yang serupa, dan menunjukan bahwa liberalisasi perdagangan memiliki dampak positif pada elastisitas permintaan tenaga kerja di industry india. Elastisitas permintaan tenaga kerja di industri pascareformasi lebih rendah dalam hal ini ialah minimumnya lapangan pekerjaan yang tidak dapat meresap semua labor maka dari itu tingkat labor mengalami kenaikan pada masa pascareformasi. Hal ini disebabkan karena ukuran yang signifikan untuk liberalisasi perdagangan dan melemahnya kekuasaan serikat buruh.
Diposting oleh Unknown di 2/16/2012 10:03:00 PM 0 komentar
Label: Teori Ekonomi 2

Kamis, 02 Februari 2012

Profit Maximazition ( Teori Ekonomi)


Bisnis adalah sebuah organisasi yang memproduksi suatu barang atau jasa dan dari organisasi tersebut bertujuan untuk mencapai profit maksimum. Sebuah profit dalam suatu bisnis adalah tujuan jangka pendek, dan dari profit tersebut , diharapkan bisnis akan tetap berjalan.
Dalam mencapai profit maksimum, tentu akan meminimaliskan biaya dan mengoptimalisasikan sumber ekonomi.
Profit ialah selisih antara  total penerimaan (revenue) dengan total biaya (cost).

Dimana, total pendapatan ditentukan oleh tingkat dan sifat persaingan di pasar dan Total biaya ialah biaya ditentukan oleh harga pasar faktor dan teknologi perusahaan atau fungsi produksi.
Harga merupakan petunjuk yang sangat berguna dalam mengalokasikan sumber-sumber ekonomi yang jumlahnya tertentu sehingga dapat di perkirakan apakah biaya produksi rata-rata masih memberikan keuntungan, baik keuntungan ekonomi (supernormal profit) atau keuntungan yang normal. Maka, untuk memperoleh profit maksimum, produsen bekerja dalam kondisi dimana MR=MC (penerima marginal = biaya marginal). Syarat keuntungan jangka pendek, dimana produsen masih mengenal biaya tetap (FC) dan biaya variabel (VC)



1. AR= penerima rata-rata = permintaan (D) = penerimaan marginal (MR).

2. MR=MC pada titik B,dari B di tarik garis vertical ke bawah memotong AC di titik E,AC = Q1E, tinggi harga Q
₁ B= OP = keuntungan rata-rata.
3. TR = O Q₁ x Q₁B= luas segi empat OQ₁,BP.TC= OQ. ₁xOC=luas segiempat=OQ₁OC.

4. Keuntungan total =TR-TC= luas segiempat CEBP.
Pada Gambar keuntungan maksimum bagi produsen, kurva permintaan horizontal , seperti diutarakan pada bab dimuka bahwa kurva permintaan yang dihadapi produsen individual dalam persaingan sempurna adalah horizontal (PB). Kurva permintaan juga sebagai AR(penerimaan rata rata/unit). Dengan demikian , P=D=AR=MR.
Pada titik B,MR=MC . kalau dari titik B dibuat garis turun kebawah maka akan memotong sumbu datar pada titik Q1. Pada EQ menunjukan biaya rata-rata(AC), dan BQ1 menunjukkan tingginya harga dan juga tingginya MR.keuntungan menurut definisi adalah selisih antara TR dan TC.
Dalam Hal ini TR=oQ₁xOP=luas segi empat BECP
TC=OQ₁ x EQ₁=luas segi empat ECOQ₁
Keuntungan =luas segi empat ECPB
Keuntungan ini merupakan ekonomi (supernoimal profit), yaitu keuntungan yang di peroleh karena AC
 ........

Dalam Profit maksimum :
Profit (P) = total penerimaan (tr) – total biaya (tc).
Profit  bergantung pada tingkat output perusahaan (x).
Jadi ...
P (x) = tr (x) - tc (x)
Menetapkan :
marjinal penerimaan (MR) = D tr / D x
marjinal  biaya (MC) =
D tc / D x 

Analisis Profit Maksimum dalam contoh soal :

Penerimaan marjinal (MR) dan biaya marjinal (MC) dari suatu perusahaan masing-masing ditunjukan dalam persamaan sebagai berikut:  MR = -200Q+1200 dan MC = 12Q2 – 800Q + 6000, dan biaya tetapnya  diketahui sebesar RP.12.000).
Berdasarkan persamaan di atas, maka tentukan:
a. Fungsi keuntungan yang dimiliki perusahaan
b. Besarnya kuantitas (Q) yang harus diproduksi agar laba/keuntungan maksimum
c. Besarnya keuntun gan maksimum

Jawab:
Diketahui:
MR = -200Q + 1200
MC = 12Q2 – 800q + 6000
FC= 12.000

a) fungsi keuntungan
π = TR-TC
π = -Q3 – 22020Q2 + 3.542.400Q – 300.000 (fungsi keuntungan)



Agar keuntungan maksimum:
Syarat 1. π’ = 0
b) keuntungan maksimum : π’ = 0
(-3Q2 – 44040Q + 3.542.40 = 0) / 3
-Q2 – 14680Q + 1.180.800 = 0
Diperoleh nilai Q = -14760 (TM) dan Q = 80
Q=80 uji turunan kedua π’’ = -63.240 < 0 (maksimum keuntungan) jadi Q  yang memberikan keuntungan maksimum Q = 80 unit.

c) Besarnya keuntungan maksimum:
Π = -Q3 -22020Q2 + 3.542.400Q – 300.000
= -(80)3 -22020(80)2 + 3.542.400(80) – 300.000
= -512.000 – 140.928.000 + 283.392.000 – 300.000
= 141.652.000 (keuntungan maksimum)

c) Besa biaya total (TC) = Q3 – 420Q2 + 54.000Q + 300.000
= (80)3 – 420(80)2 + 300.000
= 2.444.000
Penerimaan total (TR = -44.880Q2 + 3.596.400Q
= -44.880(80)2 + 3.596.400(80)
= 144.096.000

Sumber :
http://tree-network.blogspot.com
http://vinicgilang.blogspot.com



Diposting oleh Unknown di 2/02/2012 05:43:00 AM 0 komentar
Label: Teori Ekonomi 2

Kamis, 26 Januari 2012

Analisis Jurnal


       I.            Judul :
              Analisis Efesiensi Produksi Usaha Peternakan Ayam Ras Pedaging Pola Kemitraan Dan Mandiri Di   Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah
    II.            Pengarang :
              Rita Yunus
 III.            Tahun :
Juni 2009
 IV.            Tema :
Analisis Efesiensi Produksi Usaha Peternakan Ayam             

    V.            Latar Belakang Masalah :
                                    i.            Fenomena :
 Pendapatan peternak ayam ras pedaging baik yang mandiri maupun pola kemitraan sangat dipengaruhi oleh kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi yaitu bibit ayam (DOC); pakan; obat-obatan, vitamin dan vaksin; tenaga kerja; biaya listrik, bahan bakar; serta investasi kandang dan peralatan (Sumartini, 2004), sehingga usaha peternakan ayam ras pedaging di Kota Palu diduga juga dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi tersebut. Dengan menggunakan kombinasi faktor-faktor produksi yang serasi diharapkan dapat meningkatkan efisiensi untuk memperoleh hasil yang maksimal, namun dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan sistem produksi antara usaha ternak pola kemitraan dan mandiri dan berdampak pada pendapatan usaha dan alokasi penggunaan input produksi.  Peternak ayam ras pedaging mandiri di Kota Palu umumnya mempunyai skala yang kecil (500 - 2000 ekor) per periode pemeliharaan dan sangat menggantungkan hidupnya pada usaha tersebut, sedangkan peternak ayam ras pedaging pola kemitraan mempunyai skala ( > 2500 ekor) per periode pemeliharaan. Oleh karena itu permasalahannya adalah sampai seberapa jauh efisiensi usaha peternakan ayam ras pedaging pola kemitraan dan mandiri di Kota Palu.
                                  ii.            Riset Terdahulu :
Sumartini (2004), Kemitraan Agribisnis Serta Pengaruhnya Terhadap Pendapatan Usaha Ternak Ayam Ras Pedaging (Studi Pada Kemitraan Usaha Ternak Ayam Ras Pedaging di Kabupaten Bandung). Tujuannya adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh faktor-faktor produksi terhadap pendapatan usaha ternak ayam ras pedaging kemitraan (pola kontrak harga, pola kontrak upah, dan pola kerjasama manajemen) dan peternak mandiri, kemudian melihat perbedaan pendapatan antara kedua usaha ternak tersebut. Dalam penelitian ini komponen faktor produksinya adalah bibit ayam (doc), pakan, obat dan vaksin, bahan bakar, upah tenaga kerja, sewa kandang, dan biaya listrik yang kemudian dianalisis menggunakan Regresi Linier Berganda (Multiple Linier Regression).
Hasil Penelitian :
1. Faktor produksi obat dan vaksin yang paling besar pengaruhnya terhadap pendapatan usaha ternak kemitraan pola kontrak harga. Tetapi tidak berpengaruh nyata dan hubungannya negatif terhadap pola kerjasama manajemen dan peternak mandiri. Faktor produksi sewa kandang pada usaha ternak kerjasama manajemen, dan faktor produksi upah tenaga kerja pada usaha ternak non mitra.
2. Faktor produksi upah tenaga kerja yang paling besar pengaruhnya terhadap pendapatan usaha ternak kontrak upah.
3. Besarnya pendapatan usaha yang diperoleh peternak kemitraan pola kerjasama manjemen lebih besar daripada pendapatan usaha ternak kemitraan pola kontrak harga dan kontrak upah.
Achmad Gusasi, dkk (2006), Analisis Pendapatan dan Efisiensi Usaha Ternak Ayam Potong pada Skala Usaha Kecil, tujuannya adalah untuk menelusuri komponen faktor produksi yang digunakan dalam pengelolaan usaha, dan ingin mengetahui pendapatan bersih yang dapat diperoleh pada setiap tingkatan skala usaha serta tingkat efisiensinya.
Hasil penelitiannya:
1. Perbedaan pendapatan usaha pada setiap tingkatan skala usaha sangat nyata sehingga manfaat dan keuntungan dapat diperoleh pada skala usaha yang lebih besar.
2. Semakin besar skala usaha yang dilakukan, maka semakin besar pula tingkat efisiensinya.
3. Antisipasi faktor lingkungan dan keamanan yang sering menyebabkan pengaruh pada kebocoran dan kehilangan dapat menyebabkan berkurangnya penerimaan dan membengkaknya pengeluaran serta menyebabkan tidak efisien dalam pengelolaan.

                                iii.            Motivasi Penilitian :
 Motivasi penilitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan pendapatan rata – rata, menganalisis alokasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sekaligus tingkat efesiensi teknis, efesiensi harga dan efesiensi ekonomis usaha peternakan ayam ras pedaging pola kemitraan dan mandiri.

 VI.            Metodologi Penelitian

        i.            Data :

 Jenis data yang dipakai sebagai penelitian adalah merupakan data primer dan data sekunder. Data primer diambil secara cross section melalui wawancara secara langsung dengan peternak dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner). Adapun data yang langsung diperoleh dari peternak meliputi: 1). Investasi usaha yang terdiri dari kandang, instalasi listrik, instalasi air, tempat pakan dan tempat minum, pemanas serta perlengkapan lainnya; 2) elemen biaya produksi meliputi pembelian DOC, pakan, vaksin, obat-obatan dan vitamin, biaya listrik dan bahan bakar, tenaga kerja, perawatan kandang, penyusutan kandang dan peralatan, transportasi serta biaya tak terduga lainnya; 3) pendapatan yang berasal dari penjualan ayam. Data lainnya sebagai pendukung dalam penelitian ini adalah data tentang profil peternakan (menyangkut identitas peternak) dan teknis pemeliharaan (curahan tenaga kerja, umur jual ayam, volume produksi, jumlah periode pemeliharaan per tahun). Data sekunder yang diperoleh meliputi data populasi ayam ras pedaging, jumlah peternakan ayam ras pedaging, dan gambaran umum peternakan ayam ras pedaging. Sumber data primer diperoleh langsung dari peternak (responden), sedangkan data sekunder merupakan data laporan yang diperoleh dari lembaga/instansi yang terkait dalam penelitian ini, antara lain BPS Kota Palu, Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Propinsi Sulawesi Tengah, Dinas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan Kota Palu, Asosiasi Pengusaha Perunggasan (APP) Propinsi Sulawesi Tengah.

      ii.            Variabel :
Analisis Usaha
Analisis usaha ternak digunakan untuk menghitung pendapatan usaha ternak serta Return/Cost (R/C) ratio.
Pd = TR – TC …………………………………………………….. (3.1)
dimana :
Pd = pendapatan usahaternak
TR = total penerimaan
TC = total biaya
Return/Cost (R/C) ratio adalah merupakan perbandingan antara total penerimaan dengan total biaya dengan rumusan sebagai berikut (Soekartawi,1995)
a = R / C …………………………………………………………... (3.2)
R = Py x Y
C = FC + VC
a = Py x Y / (FC+VC)
dimana :
a = R / C ratio
R = penerimaan (revenue)
C = biaya (cost)
Py= harga output
Y = output
FC= biaya tetap (fixed cost)
VC= biaya variable (variable cost)
Kriteria keputusan:
R / C > 1, usaha ternak untung
R / C < 1, usaha ternak rugi
R / C = 1, usaha ternak impas (tidak untung/tidak rugi)


    iii.                    i.            Model Penilitian :

Model analisis yang digunakan adalah fungsi produksi Stochastic Frontier Cobb-Douglas model Battese and Coelli, 1995 dengan opsi Technical Efficiency Effect Model.




M


       I.            Hasil dan Analisis :


             Hasil penelitian ini menemukan bahwa berdasarkan uji beda t test peternak ayam ras pedaging mandiri memiliki tingkat pendapatan rata-rata yang berbeda dibanding peternak pola kemitraan, hal ini ditunjukkan dengan nilai R/C ratio peternak mandiri sebesar 1,26 lebih tinggi dibanding peternak pola kemitraan yang hanya sebesar 1,06. Dalam hal ini peternak yang berusaha secara mandiri lebih menguntungkan daripada peternak yang menjadi anggota pola kemitraan.


       
     Hasil uji terhadap faktor produksi menunjukkan bahwa variabel bibit ayam (DOC) dan pakan berpengaruh nyata (significant) pada α=1% dan berhubungan positif dengan produksi, dengan nilai koefisien yang cukup besar, yang artinya bahwa pertambahan bibit ayam (DOC) atau pakan akan meningkatkan produksi, sedangkan variabel vaksin, obat dan vitamin juga berpengaruh nyata namun menunjukkan hubungan yang negatif terhadap produksi, artinya bahwa perlu adanya pembatasan penggunaan vaksin, obat dan vitamin agar produksi bisa optimal. Selain itu variabel lain yang juga berpengaruh nyata pada α=5% dan berhubungan positif dengan produksi adalah tenaga kerja dan bahan bakar, karena kemampuan peternak dalam manajemen usaha memang sangat menentukan tingkat keberhasilan peternakannya, demikian pula dengan faktor produksi bahan bakar karena merupakan sumber pemanas indukan ayam “brooder” agar bibit ayam (DOC) bisa tumbuh dan menghasilkan daging dengan sempurna. Namun listrik dan luas kandang tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan produksi ayam ras pedaging.

           Analisis efisiensi teknis yang dicapai peternak ayam ras pedaging secara keseluruhan adalah sebesar 0,868. Selain dipengaruhi secara nyata oleh factor produksi bibit; pakan; vaksin, obat dan vitamin; tenaga kerja dan bahan bakar, namun juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial ekonomi, dan yang secara nyata pada α=10% mempengaruhi efisiensi teknis adalah tingkat umur peternak, dimana peternak berusia muda memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi maka akan menambah efisiensi teknis, sedangkan faktor pengalaman, jenis kelamin dan tingkat pendidikan walaupun tidak berpengaruh secara nyata namun menunjukkan hubungan yang sesuai terhadap pencapaian tingkat efisiensi teknis. Pencapaian efisiensi harga/alokatif dan efisiensi ekonomis pada peternak pola kemitraan sebesar 1,816 dan 1,587, sedangkan efisiensi harga/alokatif peternak mandiri adalah sebesar 1,838 dan efisiensi ekonomis sebesar 1,593. Secara keseluruhan kedua usaha ternak tersebut belum mencapai tingkat efisiensi frontier. Namun bagi peternak pola kemitraan efisiensi harga/alokatif dan efisiensi ekonomis tidak menjadi suatu hal penting yang harus dicapai karena pada usaha ternak pola kemitraan harga input dan harga output sudah ditentukan oleh pihak inti (perusahaan) dan peternak hanya menerima saja. Lain halnya dengan peternak mandiri yang dengan bebas dapat memilih dan menentukan kombinasi harga faktorfaktor produksi yang mereka gunakan.




    II.            Kesimpulan dan Rekomendasi :

Berdasarkan hasil analisis terhadap usaha peternakan ayam ras pedaging pola kemitraan dan mandiri di Kota Palu, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Usaha peternakan ayam ras pedaging pola kemitraan dan mandiri di Kota Palu masih cukup menguntungkan, namun pendapatan rata-rata usaha ternak mandiri lebih besar dari rata-rata pendapatan usaha ternak pola kemitraan.
2.      Faktor-faktor/variabel yang berpengaruh nyata terhadap produksi adalah bibit ayam (DOC), pakan, tenaga kerja, dan bahan bakar, namun yang juga berpengaruh nyata namun tidak sesuai tanda adalah vaksin,obat dan vitamin. Listrik dan luas kandang walaupun tidak berpengaruh nyata namun menunjukkan tanda yang sesuai.
3.      Rata-rata tingkat efisiensi teknis yang dicapai peternak ayam ras pedaging pola kemitraan dan mandiri sudah mencapai level yang cukup tinggi namun belum efisien dan masih memungkinkan untuk menambah variabel inputnya untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Berdasarkan peningkatan efisiensi dan produksi dari hasil usaha peternakan ayam ras pedaging di Kota Palu, walaw eesiensi peternak berada pada level yang cukup tinggi namun secara teknis diharapkan bagi peternak agar dapat mengalokasikan input-input produksinya lebih efisien lagi terutama dalam mengontrol penggunaan obat-obatan. Dan dari sisi pemerintah, seharusnya pemerintah memberikan pendamping masyaratkat yang bisa mendampingi dilapangan.




Diposting oleh Unknown di 1/26/2012 12:01:00 AM 0 komentar
Label: Teori Ekonomi 2

Rabu, 25 Januari 2012

Utility (kepuasan) dalam Ekonomi


Segala usaha yang dilakukan manusia pasti betujuan untuk mencapai kepuasan (utility) yang maksimum. Dalam teori perilaku konsumen dijelaskan bahwa tindakan konsumen dalam mengkonsumsi barang-barang,dengan pendapatan tertentu dan harga barang tertentu pula sedemikian rupa agar konsumen mencapai tujuannya.Tujuan konsumen untuk memperoleh manfaat atau kepuasan (utility)  sebesar-besarnya dari barang-barang yang dikonsumsi.
Nilai Guna (Utility) dalam ekonomi ialah kemampuan suatu barang atau jasa dalam memberikan manfaat atau kegunaan atau kepuasan kepada orang yang mengkonsumsinya. Semakin tinggi utility suatu barang atau jasa, semakin diinginkan barang atau jasa itu oleh seseorang. 
Cara mengukur kepuasan seseorang dapat menggunakan dua macam pendekatan yaitu :
1.      Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal
Pendekatan nilai guna (Utility) Kardinal atau sering disebut dengan teori nilai subyektif : dianggap manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara kuantitif / dapat diukur dari  keseimbangan konsumen dalam memaksimumkan kepuasan atas konsumsi berbagai macam barang, dilihat dari seberapa besar uang yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan dari berbagai jenis barang akan memberikan nilai guna marginal yang sama besarnya. Oleh karena itu dapat disimpulkan, Besar kecilnya kepuasan yang diperoleh konsumen tergantung pada jenis dan jumlah barang atau jasa yang dikonsumsi.
2.      Pendekatan nilai guna ordinal
Pendekatan nilai guna ordinal mennjelaskan  manfaat yang diperoleh masyarakat dari mengkonsumsikan barang-barang tidak kuantitif / tidak dapat diukur.
Pendakatan ini muncul karena adanya keterbatasan - keterbatasan yang ada pada pendekatan cardinal, meskipun bukan berarti pendekatan cardinal tidak memiliki kelebihan.

Nilai guna (Utiity) juga dapat dibedakan diantara dua pengertian, yaitu :
·         Marginal utility (kepuasan marginal) Yaitu pertambahan/pengurangan kepuasan sebagai akibat adanya pertambahan/pengurangan penggunaan satu unit barang tertentu.
·         Total utility (total utility) Yaitu keseluruhan kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang-barang tertentu

 Marginal Utility
Dalam marginal utility terdapat sebuah hukum marginal utility yaitu  Law of Diminishing Marginal Utility , hukum tersebut berisi :
“ apabila tambahan nilai guna yang akan diperoleh dari seseorang dari mengkonsumsi suatu barang akan menjadi semakin sedikit apabila orang tersebut terus menerus menambah konsumsinya dan pada akhirnya tambahan nilai guna tersebut akan menjadi negative”

Hukum Penurunan Daya Guna (The Law of Dimishing Marginal Utility) mula-mula akan bertambah besar dengan penambahan satu unit konsumsi, kemudian penambahan konsumsi selanjutnya akan menambah total daya guna yang semakin kecil (marginal utilitynya turun), sehingga akhirnya tercapai kekenyangan. Artinya semakin banyak seseorang mengkonsumsi suatu barang, makin berkuranglah daya guna yang dapat diberikan barang tersebut baginya

Total Utility
Daya guna total ( Total Utility) adalah jumlah daya guna atau kegunaan yang di peroleh dari mengkonsumsi suatu barang untuk waktu tertentu. ­ Daya guna menaik (Increase Total Utility), makin banyaknya konsumsi suatu barang atau memperoleh alat pemuas kebutuhan, maka total utilitas akan meningkat jumlahnya. ­ Daya guna menurun (Descrease Total Utility), adalah nilai total guna yang semakin menurun/berkurang akibat menambah jumlah konsumsi suatu barang.

Perubahan marginal utility suatu barang dipengaruhi oleh perubahan harga barang dan perubahan pendapatan konsumen.
Perubahan harga suatu barang akan mengubah nilai marjinal utility/rupiah dari barang yang mengalami perubahan harga tersebut, apabila harga suatu barang makin naik maka nilai marginal rupiah akan semakin rendah dan sebaliknya apabila suatu barang mengalami penurunan harga maka nilai marginal utility/rupiah akan semakin tinggi.
Efek pendapatan terjadi dari berubahnya harga suatu barang (naik atau turun). Jika harga barang X naik, maka tambahan kepuasan dari mengkonsumsi satu unit barang tersebut menjadi turun per harga barangnya. Hal ini menyebabkan turunnya permintaan akan barang X. Sebaliknya jika harga barang Y turun, maka tambahan kepuasan dari mengkonsumsi satu unit barang tersebut menjadi naik per harganya, sehingga permintaan akan barang Y naik.

Sumber :
http://en.wikipedia.org/
http://ramaalessandro2.multiply.com
http://faizulmubarak.wordpress.com






Diposting oleh Unknown di 1/25/2012 08:50:00 PM 0 komentar
Label: Teori Ekonomi 2, tugas

Jumat, 25 November 2011

Baja di Indonesia


Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) menyatakan, pasar baja di Indonesia tahun ini diperkirakan mencapai Rp63,7 triliun atau setara 9,5 juta ton. Angka itu meningkat 53,4% dibandingkan 2010 yang mencapai Rp41,5 triliun. Sementara itu harga jual rata-rata baja pada 2011 akan naik 15-23% dibanding tahun 2010.

Meski pencapaiannya tidak akan sebesar target yang ditetapkan pemerintah, industri baja diperkirakan masih akan tetap tumbuh tahun depan. Pasalnya, krisis ekonomi global tidak akan menghalangi negara-negara berkembang yang sedang mengembangkan infrastruktur.
Peningkatan produksi baja di Indonesia diprediksi akan meningkat, hal itu dikarenakan:
1.       Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia yang membutuhkan banyak produk baja
2.       Sektor otomotif mendorong penggunaan baja
3.       Sektor perkapalan juga meningkat
Karena tingginya biaya produksi, maka produsen bajapun akan menaikkan harga jual produk.
Indonesia termasuk salah satu konsumen sekaligus produsen baja yang besar. Namun yang terjadi saat ini, produksi baja nasional tidak pernah seimbang dengan konsumsi kebutuhan dalam negeri.
Diperkirakan tahun ini Indonesia masih harus mengimpor baja sekitar 3 juta ton untuk memenuhi tingginya kebutuhan baja di dalam negeri. Oleh karena itu, saat ini masing-masing produsen dalam negeri berlomba meningkatkan kapasitas produksi dan perluasan pasar untuk dapat memenuhi target penjualannya.
Pasar baja nasional memang besar. Dengan pembangunan infrastruktur yang terus berjalan, pasar baja Indonesia akan tetap tumbuh. Namun, di tengah besarnya pasar baja di negeri ini, tingkat produksi masih belum mengimbangi kebutuhan. Sebenarnya ini menjadi potensi pasar untuk investasi baru, asalkan dapat bersaing dengan harga murah dan kualitas baik.

Sumber:
http://www.mediaindonesia.com/read/2011/11/24/278688/4/2/Industri-Baja-Diprediksi-Tumbuh
http://duniaindustri.com/baja/684-pasar-baja-indonesia-diprediksi-naik-53.html
http://www.jurnas.com/news/37045/Produsen_Baja_Pasti_Naikkan_Harga/1/Ekonomi
Diposting oleh Unknown di 11/25/2011 12:07:00 AM 0 komentar
Label: Teori Ekonomi 1
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod