skip to main | skip to sidebar

About me

Unknown
Lihat profil lengkapku

Arsip

  • 2pm (1)
  • Artikel (1)
  • Bank Lembaga Keuangan (4)
  • Bank Lembaga Keuangan 2 (8)
  • coretan (11)
  • iseng (9)
  • junho (1)
  • jurnal (1)
  • Kim Myungsoo (1)
  • Kliring (3)
  • kpop (3)
  • L (1)
  • lyrics (11)
  • Paper (2)
  • photo (1)
  • so eun (1)
  • song (17)
  • Sooyouny (1)
  • Teori Ekonomi 1 (10)
  • Teori Ekonomi 2 (7)
  • translete (1)
  • tugas (13)
  • tulisan (12)

Archivo del blog

  • ▼ 2012 (23)
    • ▼ Desember (3)
      • edit ..
      • I Think The Tears Flow When Thinking ABout Y...
    • ► Juni (7)
    • ► Mei (2)
    • ► April (2)
    • ► Maret (5)
    • ► Februari (2)
    • ► Januari (2)
  • ► 2011 (49)
    • ► November (7)
    • ► Oktober (4)
    • ► Juli (3)
    • ► Juni (3)
    • ► Mei (4)
    • ► April (6)
    • ► Maret (10)
    • ► Februari (7)
    • ► Januari (5)
  • ► 2010 (37)
    • ► Desember (2)
    • ► November (9)
    • ► Oktober (6)
    • ► September (6)
    • ► Mei (1)
    • ► April (8)
    • ► Maret (1)
    • ► Januari (4)
  • ► 2009 (5)
    • ► Desember (5)

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

aLone

aLone

linkz

  • ejournal gunadarma
  • elearning gunadarma
  • http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/prihantoro/
  • library gunadarma
  • ocw gunadarma
  • repository gunadarma
  • stafsite gunadarma

chaT bOx

m.u.s.i.c


MusicPlaylist
Music Playlist at MixPod.com

twitter


...
Tampilkan postingan dengan label Teori Ekonomi 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori Ekonomi 2. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2012

Proposal Riset


Aqilah Shalihatulhayah 20210977
Meita Putri 29210045
Proposal Riset

Judul
Keunggulan Komparative dan Kompetitif Sebagai pendorong Perdagangan Internasional antar Negara
Latar Belakang
Setiap negara tidak menghasilkan semua barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, negara tersebut cenderung untuk mengekspor barang yang dihasilkan secara lebih baik atau murah daripada negara lain, dan menggunakan hasil yang diperoleh untuk mengimpor produk yang tidak dapat dibuatnya secara efisien. Hal ini yang melahirkan terjadinya perdagangan internasional.
Untuk menjelaskan terjadinya perdagangan internasional, pada awalnya ekonom memfokuskan diri pada keunggulan mutlak (absolute advantage) dan keunggulan komparatif (comparative advantage). Namun, karena kedua pandangan ini memfokuskan diri secara sempit pada faktor-faktor produksi, seperti sumber daya alam dan tenaga kerja, maka kemudian muncul pandangan yang lebih komprehensif yang dikenal dengan keunggulan kompetitif nasional (national competitive advantage).
Dalam teori keunggulan komperatif  (Comparative Advantage) perdagangan internasional terjadi apabila masing-masing negara memiliki keunggulan relatif terhadap negara lainnya. Contoh : jika sebuah negara mampu membuat komputer secara lebih efisien dibandingkan membuat mobil, maka negara tersebut memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi komputer.
Dan dalam teori keunggulan kompetitif nasional (national competitive advantage), beberapa tahun terakhir menjadi model yang menjelaskan mengapa negara melakukan perdagangan internasional. Pada dasarnya, sebuah keunggulan kompetitif nasional berasal dari empat kondisi :
Kondisi faktor-faktor (faktor produksi) :
Kondisi permintaan yang mencerminkan konsumen dalam negeri yang besar mampu menaikkan permintaan terhadap produk yang inovatif
Industri terkait dan pendukung yang meliputi pemasok lokal atau regional dan/atau pelanggan industri.
Strategi, struktur, dan persaingan yang mencerminkan perusahaan-perusahaan dan industri yang memfokuskan pada penurunan biaya produksi, perbaikan kualitas produksi, produktivitas yang lebih tinggi, dan produk baru yang inovatif.
Jika semua kondisi ini mendukung maka sebuah negara akan terdorong untuk melakukan bisnis internasional.
Masalah
Ketika keunggulan Komperatif dan kompetitif menjadi sebuah acuan untuk melakukan sebuah perdagangan internasional, hal apa saja yang dapat dikatakan sebuah negara dapat memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.
Riset Terdahulu
Dalam jurnal Tri widodo menyimpulkan bahwa ada hubungan positif antara keunggulan komparatif dan neraca perdagangan   Semakin tinggi perbandingan keuntungan dari produk tertentu, semakin tinggi kemungkinan suatu negara sebagai exporter.
Dalam jurnal (Tain-Jy Chen and Ying-Hua) tahun 2002, investasi langsung atau FDI (foreign direct investment) merupakan  langkah strategis yang bisa dilakukan investor untuk menciptakan keunggulan kompetitif melalui eksploitasi sumber daya tiap negara  yang tidak sama tersedia untuk semua investor.
Teori tradisional investasi langsung asing (FDI) memandang investasi seperti upaya untuk mengeksploitasi harga sewa ekonomi di negara asing, di mana negara yang dianggap sebagai perbatasan pasar baru.

Tujuan Penilitian
Dalam kaitan keunggulan komperatif dan keunggulan kompetatif dengan bisnis internasional.  Penilitian ini bertujuan bagaimana mengetahui keunggulan  komparatif dan kompetitif menjadi sebuah negara untuk melakukan perdagangan internasiol

Metodologi Penilitian
    Data
·         Data Intangible asset suatu negara
·         Tingginya switching cost suatu negara
·         Data Network economics suatu negara
·         Data Cost advantage
    Model Penilitian
    Model penilitian yang digunakan dalam penilitian ini adalah meninjau teori –teori keunggulan
    komparatif dan kompetitif yanf telah ada. Dan pengambilan data menggunakan data sekunder    
     yaitu mengambil dari sumber-sumber terdahulu serta melihat data statistic perdagangan ditiap=tiap
     negara.
Diposting oleh Unknown di 3/07/2012 10:58:00 PM 0 komentar
Label: Teori Ekonomi 2

Sabtu, 03 Maret 2012

Analisis Jurnal


Aqilah Shalihatulhayah 20210977
Meita Putri 29210045

Analisis Jurnal
Judul : COMPARATIVE ADVANTAGE: THEORY, EMPIRICAL MEASURES AND CASE STUDIES
Pengarang :  Tri Widodo
Tahun :  -
Tema : Comparative Advantage
Latar Belakang Masalah :
   Fenomena
Dalam teori perdagangan internasional, keunggulan komparatif adalah penting konsep untuk menjelaskan pola perdagangan. Prinsip keunggulan komparatif mendalilkan bahwa suatu bangsa akan mengekspor
barang atau jasa di mana ia memiliki keuntungan komparatif terbesar dan impor
mereka di mana ia memiliki keuntungan setidaknya komparatif (Ricardo, 1817). 
   Riset Terdahulu
Saldo dkk. (1987) berpendapat bahwa kondisi ekonomi di berbagai negara perdagangan akan menentukan pola internasional keunggulan komparatif dan pola perdagangan internasional, produksi dan konsumsi (TPC) di antara negara. Dalam studi empiris, peneliti menerapkan data pada TPC, seperti ekspor, impor, produksi dan konsumsi, untuk "mengungkapkan" komparatif negara keuntungan. Namun, penerapan data tersebut membawa beberapa masalah tentang
Data agregasi, besarnya TPC data, konkordansi TPC data dan
perdagangan pemerintah intervensi.
   Motivasi Penelitian
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji konsep dan langkah-langkah empiris keunggulan komparatif dan untuk mendapatkan alat analisis, yaitu "produk pemetaan ", yang cocok untuk menganalisis keunggulan komparatif dari catching up ekonomi, seperti ASEAN (Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara) negara.
Metodologi Penilitian :
 Data
Variabel
  Model Penilitian
Model penilitian yang digunakan dalam penilitian ini adalah meninjau teori dan mengaplikasikan alat analisis “ produk pemetaan”.

Hasil dan Analisis:







Tabel  diatas menyajikan produk pemetaan untuk tahun 1985 dan 2005. Kolom kedua  merupakan top-sepuluh produk yang terdaftar di Grup A. Produk-produk ini dianggap sebagai yang terbaik-sepuluh produk dalam hal keunggulan komparatif dan neraca perdagangan. Mereka berada dalam posisi memiliki keunggulan komparatifdalam perdagangan internasional dan negara dalam posisi harus neraca perdagangan yang positif (atau sebagai net-eksportir). Semua angka menunjukkan hubungan positif antara komparatif keuntungan dan neraca perdagangan. Semakin tinggi keunggulan komparatif tertentu produk, semakin tinggi kemungkinan suatu negara sebagai eksportir menjadi net-.  Ini hasil sangat mendukung teori keunggulan komparatif (Ricardo, 1817): "sebuah bangsa, seperti orang, keuntungan dari perdagangan dengan mengekspor barang atau jasa yang memiliki keuntungan terbesar komparatifnya dalam produktivitas dan impor mereka paling tidak memiliki keunggulan komparatif ".
 Kesimpulan dan Rekomendasi :
Ada hubungan positif antara keunggulan komparatif dan neraca perdagangan. Semakin tinggi perbandingan keuntungan dari produk tertentu, semakin tinggi kemungkinan suatu negara sebagai sebuah net-exporter. Hal ini sangat mendukung teori keunggulan komparatif
Dalam penilitian sebaiknya dilihatkan langkah – langkah pembuatan  program mapping pada aplikasi terhadap negara-negara ASEAN sehingga dapat dimengerti dari mana hasil prduct mapping itu dibuat.


JUDUL
Creating Competitive Advantages out of Market Imperfections: Taiwanese Firms in China

PENGARANG
Tain-Jy Chen and Ying-Hua  Ku

TAHUN
2002

TEMA
Comparative & competitive advantage

1.       LATAR BELAKANG MASALAH
1.1. FENOMENA
Teori berbasis sumber daya kompetisi berpendapat bahwa perusahaan terdiri dari  keunggulan kompetitif dari kemampuannya untuk menggunakan sumber daya tertentu. Saat ini sudah banyak negara yang melakukan investasi langsung asing atau FDI (foreign direct investment). Termasuk Taiwan, perusahaan Taiwan lebih mampu merelokasi produksi mereka jaringan - yang terdiri dari sejumlah besar perusahaan kecil - ke China. Selain ingin memperluas merk dan produksinya, mereka juga ingin meningkatkan keuntungan komparatif maupun kompetitif, yaitu memperoleh efisiensi dan keuntungan yang tinggi. Karena dengan adanya peningkatan efisiensi dan keuntungan tersebut maka akan meningkatkan tingkat persaingan mereka juga. Yang secara mikro akan menaikkan nilai persaingan antar pasar, secara makro menaikan persaingan negara. Pada akhirnya, mereka menginginkan kuantitas yang optimal, biaya yang minimal, sehingga memperoleh profit yang besar.

1.2. RISET TERDAHULU
Teori tradisional investasi langsung asing (FDI) memandang investasi seperti upaya untuk mengeksploitasi harga sewa ekonomi di negara asing, di mana negara yang dianggap sebagai perbatasan pasar baru. Teori tradisional menempatkan penekanan yang signifikan terhadap kerugian dari perusahaan asing dalam penggunaan sumber daya lokal, dengan kerugian tersebut timbul terutama dari hambatan informasi. Hal ini juga dilihat kemampuan perusahaan untuk melintasi hambatan informasi, atau 'keasingan', sebagai prasyarat untuk FDI. Karena itu, hanya perusahaan yang memiliki aktiva tidak berwujud tertentu mampu mengimbangi kekurangan ini informasi dapat terlibat dalam FDI. Teori tradisional FDI cenderung untuk menekankan kepemilikan-spesifik keuntungan yang memungkinkan beberapa investor untuk mengakses lokasi tertentu kembali sumber lebih mudah, atau menggunakannya lebih efisien. Sebaliknya, ketidaksempurnaan pasar dan kekurangan kelembagaan lebih penting daripada karakteristik perusahaan dalam menciptakan FDI-berasal keunggulan kompetitif.

2.       MOTIVASI PENELITIAN
Dengan disorotnya investasi langsung asing (FDI) sebagai langkah strategis dengan investor asing untuk mengeksploitasi sumber daya negara tuan rumah yang tidak sama tersedia bagi semua perusahaan untuk menciptakan keunggulan kompetitif dalam jurnal ini, maka kita gunakan perusahaan Taiwan di Cina sebagai contoh. Maka kita menemukan strategi berbasis sumber daya FDI paling efektif antara perusahaan-perusahaan besar di industri dewasa. Maka kita akan mengetahui seberapa baik strategi FDI tersebut dalam meningkatkan efisiensi dan keuntungan yang diinginkan oleh perusahaan.
3.       METODOLOGI
Metodologi pengambilan data menggunakan data sekunder yaitu mengambil dari sumber-sumber terdahulu
4.       MODEL PENELITIAN

Model 1
Jumlah lini perusahaan A pada tahun 1994

Model 2
Peningkatan jumlah pabrik dan pekerja perusahaan B
Tahun
Jumlah Pabrik
Jumlah Pekerja
1987
1
100
1999
5
26000



Model 3
Kenaikan Jumlah keeping resistor perusahaan C



1.       HASIL DAN ANALISIS
Dari ketiga model diatas, terlihat bahwa ketiga perusahaan mengalami kemajuan semenjak melakukan investasi langsung asing (FDI) baik dari segi keuntungan komparatif maupun kompetitif. Di model 1 kita lihat bahwa perusahaan A yang memproduksi sepatu berhasil membangun 179 lini perusahaan di 3 negara asing termasuk Indonesia. Padahal di awal ia melakukan FDI ia hanya bisa membuka 18 perusahaan dengan 50.000 pekerja. Perusahaan A berhasil menguasai 15% pangsa pasar global pada tahun 1994.
Perusahaan B (model 2) merupakan perusahaan transformer dan unit catu daya terbesar di Taiwan. Memulai FDI di negara China pada tahun 1987 dengan membangun 1 pabrik dengan 100 pekerja. Dua belas tahun kemudian terlihat kemajuan yang sangat signifikan baik dari jumlah pabrik maupun pekerja. Selain daya unggul yang diperoleh dari memindahkan rantai pasokan, perusahaan besar juga dapat menikmati keuntungan yang luar biasa dalam pasar tenaga kerja China. Perusahaan B, misalnya, mempekerjakan sebagian besar out-of-provinsi pekerja perempuan yang ditempatkan di asrama perusahaan dengan kamar mereka dan papan ditutupi oleh biaya perusahaan. Keuntungan yang lebih besar, di bidang pekerja terampil, yang masih harus dibayar oleh perusahaan besar. Meskipun pasokan yang ada China tenaga kerja terampil terbatas, sistem pendidikan tinggi negara itu tidak menawarkan kolam besar bakat, yang dapat diolah dan diubah menjadi kemampuan teknik mengagumkan.
Di perusahaan C (model 3), perusahaan yang bergerak di bidang elektronik pasif, memulai FDI pada tahun 1994. Tidak seperti perusahaan-perusahaan Taiwan lainnya, yang biasanya melakukan investasi greenfield ketika memasuki pasar Asia Tenggara, Perusahaan C memilih akuisisi sebagai modus operandinya. Ini karena itu diakui bahwa saluran pemasaran sangat penting untuk penjualan komponen pasif, seperti resistor, yang sebagian besar standar. Sebaliknya, pembuat komponen elektronik khusus biasanya memasarkan produk mereka melalui pengaturan subkontrak di mana sejumlah kecil hubungan pembeli penting bagi keberhasilan. Hasilnya, dalam satu tahun mereka mampu menambah lebih dari 300% jumlah keeping resistor yang dapat mereka produksi.

2.       KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
2.1. KESIMPULAN
FDI merupakan langkah strategis yang bisa dilakukan investor untuk menciptakan keunggulan kompetitif melalui eksploitasi host-negara sumber daya yang tidak sama tersedia untuk semua investor. Perusahaan Taiwan memanfaatkan China sebagai sebuah perbatasan pasar baru dalam rangka untuk mempromosikan posisi mereka di pasar global. Tetapi, ketiga perusahaan tetap dalam parameter kompetensi inti mereka, hanya mengatur produksi produk teknologi yang terkait. Perusahaan-perusahaan ini mengambil keuntungan dari ketidaksempurnaan pasar, dan insufisiensi lembaga di negara-negara tuan rumah, untuk menciptakan hambatan akses ke sumber daya lokal yang penting untuk kompetisi internasional.
2.2. REKOMENDASI
Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak sumber daya untuk diolah. Jika memang hasil dari pengolahan itu kurang diketahui oleh pangsa pasar global, maka cobalah untuk melakukan hal yang sama seperti ketiga perusahaan dalam kasus di atas. Lakukanlah investasi langsung asing atau FDI. Walaupun China merupakan negara yang berpotensi dan menguntungkan untuk melakukan investasi langsung asing atau FDI, tapi kita juga harus melihat potensi negara lain yang mungkin bisa lebih menguntungkan dibanding China.









Diposting oleh Unknown di 3/03/2012 05:11:00 AM 0 komentar
Label: Teori Ekonomi 2

Ringkasan Jurnal

"COMPARATIVE ADVANTAGE: THEORY, EMPIRICAL MEASURES AND CASE STUDIES "

Jurnal yang dibuat oleh Tri Widodo yang berjudul COMPARATIVE ADVANTAGE: THEORY, EMPIRICAL MEASURES AND CASE STUDIES bertujuan untuk mengkaji konsep dan langkah – langkah empiris keunggulan komparatif. Menurut penulis alat yang cocok untuk menganalisis keunggulan komparatif dari catchingup ekonomi, seperti ASEAN (Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara) dapat dilihat  dari dua sudut pandang yaitu daya saing internasional dan neraca perdagangan negara itu.
Dalam teori keunggulan komperatif menurut  Model Ricardian Prinsip keunggulan komparatif mendalilkan bahwa suatu bangsa akan mengekspor barang atau jasa di mana ia memiliki keuntungan komparatif terbesar dan impor mereka di mana setidaknya memiliki keuntungan komparatif.
Keunggulan komparatif suatu negara mungkin berubah karena perubahan penawaran dan sisi permintaan baik di pasar domestik dan internasional. Pasokan sisi yang berhubungan dengan PPF, sedangkan, sisi permintaan terkait dengan preferensi masyarakat. Dalam hal ini, Echevarria (2008) menemukan bahwa dalam jangka panjang, keunggulan komparatif didorong oleh produktivitas faktor diferensial total (TFP). Hal ini menjelaskan fakta bahwa negara-negara berkembang cenderung mengekspor komoditas primer walaupun mereka tidak kurang padat modal. Selain itu, non-homothetic preferensi menyiratkan negara lebih sedikit mengekspor komoditas primer saja atau sebagian besar karena ekonomi global berkembang.
Langkah-langkah untuk "mengungkapkan" keunggulan komparatif negara penulis melihat dari sisi rasio ekspor, rasio impor, rasio perdagangan bersih,rasio produksi untuk konsumsi. Menggunakan  "PRODUK PEMETAAN" untuk menganalisis keuntungan komparatif pertama penulis melihat dari sudut pandang domestik, yang menyebabkan produk diekspor  sebagai produk ekspor yang dapat memberikan jumlah yang lebih besar dari devisa bagi perekonomian domestik. Dari makroekonomi standar identitas Y = C + I + G + (XM), dimana Y, C, I, G, X dan M adalah output, konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor dan impor, masing-masing, itu jelas menunjukkan bahwa trade-balance (XM) adalah salah satu sumber pertumbuhan output (Y). Produk tersebut dapat dianggap sebagai valuta asing pencipta bagi perekonomian domestik. Kedua, dari sudut pandang persaingan internasional, terkemuka diekspor produk produk yang memiliki keunggulan komparatif tinggi di internasional pasar. Sebuah produk ekspor tertentu menjadi ekspor utama jika pangsa dalam total ekspor dunia adalah dominan. 
Penulis  membuat alat analisis  "Produk pemetaan", yang cocok untuk menganalisis catching-up negara keunggulan komparatif. Maka alat analisis ini diterapkan untuk memeriksa Negara ASEAN ekspor. Penulis  menyimpulkan bahwa ada hubungan positif antara keunggulan komparatif dan neraca perdagangan. Semakin tinggi perbandingan keuntungan dari produk tertentu, semakin tinggi kemungkinan suatu negara sebagaisebuah netexporter menjadi. Hal ini sangat mendukung teori keunggulan komparatif.
Penulis menggunakan data berikut :

Dari data tersebut menunjukkan jumlah rata-rata produk di Grup A, B, C dan D dari "pemetaan produk" untuk negara-negara ASEAN untuk 1976-2005. Sekitar 66,8 persen dari jumlah produk ASEAN diekspor berada di Grup E (produk tidak memiliki keunggulan komparatif, dan negara adalah sebagai jaring importir). Dan ada sekitar 16 persen, 14 persen dan 3 persen dari jumlah
masing –masing produk di Grup A, D dan C. Grup B adalah kelompok yang sedikit berbeda, karena terdiri dari produk, yang memiliki keunggulan komparatif tetapi negara sebagai importir bersih. Dibandingkan dengan negara lain, Singapura memiliki tertinggi sebagian produk berbaring dalam kelompok ini yaitu 14 produk (6%). Hal ini terjadi  karena Singapura sebagai pusat penyaluran barang untuk negara-negara lain, terutama negara-negara ASEAN. Singapura memiliki keunggulan kompetitif yang sangat tinggi di sektor jasa, seperti pengiriman, perbankan, dll; sehingga dia dapat melakukan re-ekspor
kegiatan efisien. Akibatnya, mereka kembali mengekspor produk  dan masih memiliki perbandingan keuntungan dalam pasar internasional. Dominasi Grup D dan A (bersama-sama sekitar 82,8 persen dari jumlah produk) menunjukkan hubungan yang kuat antara keunggulan komparatif dan posisi suatu negara dalam internasional pasar, sebagai importir bersih-atau net-eksportir.
Maka dapat dari penulis membuat alat analisis yaitu "Produk pemetaan", yang cocok untuk menganalisis catching-up negara keunggulan komparatif dan setelah diterapkan untuk memeriksa Negara ASEAN ekspor. Penulis menyimpulkan bahwa ada hubungan positif antara keunggulan komparatif dan neraca perdagangan. Semakin tinggi perbandingan keuntungan dari produk tertentu, semakin tinggi kemungkinan suatu negara sebagai sebuah netexporter menjadi. Hal ini sangat mendukung teori keunggulan komparatif.

Sumber jurnal : jurnal COMPARATIVE ADVANTAGE: THEORY, EMPIRICAL
MEASURES AND CASE STUDIES Karya Tri Widodo..




"Creating Competitive Advantages out of Market Imperfections: Taiwanese Firms in China"


Teori berbasis sumber daya kompetisi berpendapat bahwa perusahaan terdiri dari  keunggulan kompetitif dari kemampuannya untuk menggunakan sumber daya tertentu. Saat ini sudah banyak negara yang melakukan investasi langsung asing atau FDI (foreign direct investment). Termasuk Taiwan, perusahaan Taiwan lebih mampu merelokasi produksi mereka jaringan - yang terdiri dari sejumlah besar perusahaan kecil - ke China. Selain ingin memperluas merk dan produksinya, mereka juga ingin meningkatkan keuntungan komparatif maupun kompetitif, yaitu memperoleh efisiensi dan keuntungan yang tinggi. Karena dengan adanya peningkatan efisiensi dan keuntungan tersebut maka akan meningkatkan tingkat persaingan mereka juga. Yang secara mikro akan menaikkan nilai persaingan antar pasar, secara makro menaikan persaingan negara. Pada akhirnya, mereka menginginkan kuantitas yang optimal, biaya yang minimal, sehingga memperoleh profit yang besar.
Dalam jurnal ini terdapat 3 kasus yang terjadi dalam 3 perusahaan berbeda. Ketiga perusahaan ini berada di Taiwan, mereka melakukan FDI atau investasi langsung asing. Pertama, perusahaan A, perusahaan sepatu terbesar di Taiwan yang memulai untuk melakukan FDI di China pada tahun 1988. Dalam kurun waktu 6 tahun, mereka berhasil membangun 179 lini perusahaan di 3 negara asing termasuk Indonesia (liat diagram 1). Padahal di awal ia melakukan FDI ia hanya bisa membuka 18 perusahaan dengan 50.000 pekerja. Perusahaan A berhasil menguasai 15% pangsa pasar global pada tahun 1994.

Jumlah lini perusahaan A tahun 1994
Perusahaan B merupakan perusahaan transformer dan unit catu daya terbesar di Taiwan. Memulai FDI di negara China pada tahun 1987 dengan membangun 1 pabrik dengan 100 pekerja. Dua belas tahun kemudian terlihat kemajuan yang sangat signifikan baik dari jumlah pabrik maupun pekerja. Di perusahaan C, perusahaan yang bergerak di bidang elektronik pasif, memulai FDI pada tahun 1994. Tidak seperti perusahaan-perusahaan Taiwan lainnya, yang biasanya melakukan investasi greenfield ketika memasuki pasar Asia Tenggara, Perusahaan C memilih akuisisi sebagai modus operandinya. Ini karena itu diakui bahwa saluran pemasaran sangat penting untuk penjualan komponen pasif, seperti resistor, yang sebagian besar standar. Sebaliknya, pembuat komponen elektronik khusus biasanya memasarkan produk mereka melalui pengaturan subkontrak di mana sejumlah kecil hubungan pembeli penting bagi keberhasilan. Hasilnya, dalam satu tahun mereka mampu menambah lebih dari 300% jumlah keping resistor yang dapat mereka produksi. Berikut kurvanya.

Perusahaan B merupakan perusahaan transformer dan unit catu daya terbesar di Taiwan. Memulai FDI di negara China pada tahun 1987 dengan membangun 1 pabrik dengan 100 pekerja. Dua belas tahun kemudian terlihat kemajuan yang sangat signifikan baik dari jumlah pabrik maupun pekerja. Di perusahaan C, perusahaan yang bergerak di bidang elektronik pasif, memulai FDI pada tahun 1994. Tidak seperti perusahaan-perusahaan Taiwan lainnya, yang biasanya melakukan investasi greenfield ketika memasuki pasar Asia Tenggara, Perusahaan C memilih akuisisi sebagai modus operandinya. Ini karena itu diakui bahwa saluran pemasaran sangat penting untuk penjualan komponen pasif, seperti resistor, yang sebagian besar standar. Sebaliknya, pembuat komponen elektronik khusus biasanya memasarkan produk mereka melalui pengaturan subkontrak di mana sejumlah kecil hubungan pembeli penting bagi keberhasilan. Hasilnya, dalam satu tahun mereka mampu menambah lebih dari 300% jumlah keping resistor yang dapat mereka produksi. Berikut kurvanya.


Sumber Jurnal : jurnal "Creating Competitive Advantages out of Market Imperfections: Taiwanese Firms in China" karya Tain-Jy Chen and Ying-Hua  Ku tahun2002




Diposting oleh Unknown di 3/03/2012 04:30:00 AM 0 komentar
Label: Teori Ekonomi 2

Kamis, 16 Februari 2012

Jurnal Elastisitas



DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI HARGA BAHAN BAKAR MINYAK TERHADAP KINERJA INDUSTRI HASIL HUTAN KAYU

Subsidi harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dihitung sebagai selisih antara penjualan dalam negeri produk BBM dengan komponen biaya pokok pengadaan BBM. Kenaikan harga BBM dikhawatirkan mendorong lebih jauh penurunan kinerja industri hasil hutan kayu, khususnya dalam hal penawaran dan permintaannya. Kenaikan harga BBM dengan adanya subsidi dari pemerintah cenderung inelastis, hal ini dikarenakan terbatasnya barang substitusi dan komplementer dari BBM tersebut. Selain itu, total revenue sangat dipengaruhi oleh subsidi dari pemerintah kepada perusahaan industri kayu tersebut.

THE IMPACT OF ADVERTISING ON CONSUMER PRICE SENSITIVITY IN EXPERIENCE GOODS MARKET

Iklan dapat mempengaruhi tingkat permintaan suatu barang.  Akan tetapi, pengaruh dari iklan tersebut sangat bergantung dari tampilan, kemenarikan, dan seberapa intens iklan tersebut. Dalam kasus ini, peneliti meneliti barang-barang yang elastis, sehingga iklan yang menguntungkan dan lebih berpengaruh pada elastisitas harga adalah iklan yang tidak menurunkan elastisitas permintaan. Hal ini terjadi karena ketika elastisitas harga suatu barang naik, maka permintaan barang tersebut akan turun karena terdapat barang-barang alternatif atau subtitusi lainnya. Sebagai tambahan, keadaan tersebut dapat menyebabkan produsen baru untuk masuk ke dalam pasar.

Permasalahan mengenai elastisitas permintaan terhadap air di USA dan Eropa.

Diterapkan penggunaan tarif untuk pemakaian air di setiap perumahan. Ternyata terdapat kesenjangan yang cukup besar antara elastisitas harga dan elastisitas penghasilan. Bila digambarkan elastisitasnya mendekati 0, nilai elastisitas yang mendekati 0 ini disebabkan oleh adanya pemakaian air yang tidak terkontrol di masyarakat sehingga ada ketidaksesuaian antara jumlah air yang dipasok dengan jumlah air yang dipakai. Akibatnya di USA diadakan penelitian untuk mengurangi kesenjangan di elastisitas tersebut. Metode yang digunakan antara lain metode increasing block rate tarif yang hasilnya adalah kebutuhan air menjadi lebih elastis dan elastisitas pendapatan menurun dan metode decreasing block rate tarif yang hasilnya berbanding terbalik dengan metode increasing block rate tarif. Namun dalam kenyataannya dari kedua metode ini kita tidak bisa menentukan mana yang akan menghasilkan elastisitas tertinggi karena hal ini bergantung pada kompleksitas masalah yang ada seperti kondisi geografis lingkungan, suhu, cuaca, dsb.

Price Elasticity Dynamics Over The Product Life Cycle: A Study Of Consumer Durables

Suatu produk pada umumnya mengalami tingkat inelastisitas tertinggi pada fase awal siklus hidup produk. Sedangkan produk tersebut mengalami elastisitas pada saat pembelian kembali pada fase puncak (maturity) di mana tingkat penjualan mencapai tingkat tertinggi. Setelah tahap maturity produk akan memasuki fase decline (penurunan). Pada fase ini, produsen perlu memperbaharui kembali produknya agar konsumen tidak mengalami kejenuhan. Sebab persaingan semakin ketat dan mencapai tingkat elastisitas tertinggi.

Economic Impact of Tourism and Globalization in Indonesia

Adanya hubungan antara harga yang menurun, permintaan, dan income yang berjalan semakin tinggi didalam kasus perdagangan bebas / liberalisasi yang menyebabkan pemerintah membuat kebijakan dengan mengurangi tarif impor dan pengenaan pajak pada komoditas domestik yang berdampak pada penurunan harga domestic. Walaw merangsang produsi dalam negeri dan meningkatkan lapangan pekerjaan serta meningkatkan PDB, namun hal ini menyebabkan neraca perdagangan memburuk.  Dapat disimpulkan bahwa ini bersifat elastis. Untuk mencegah terjadinya inelastis maka pemerintah seharusnya membuat kebijakan untuk menaikan harga saja dan menurunkan tarif pajak.

Estimating the Effect of Urban Density on Fuel Demand

Kepadatan jumlah penduduk di perkotaan  dapat mempengaruhi permintaan relatif untuk bahan bakar transportasi jalan, memberikan perkiraan elastisitas yang sensitif terhadap pola fasilitas umum . Kepadatan penduduk kota terhadap permintaan bahan bakar yaitu inelastic, fenomena di kota yang terjadi, karena banyaknya fasilitas yang disediakan oleh pemerintah maka jarak yang di tempuh penduduk di perkotaan relative singka. Harga BBM mempengaruhi permintaan bahan bakar sebagian besar melalui variasi dalam konsumsi bahan bakar per km dan jarak mengemudi bukan kepemilikan mobil. Hal ini dapat mencerminkan harga bahan bakar tidak mempengaruhi permintaan mobil.

Impact of Advertising

Rating iklan bisa muncul akibat dari penilaian dari pihak konsumen yang menilai apakah iklan tersebut memiliki citra yang kuat, jadi semakin tinggi nilai rating maka kepercayaan semakin sangat tinggi, hal ini akan mempengaruhi elastisitas konsumen dalam membeli barang karena semakin konsumen percaya akan suatu produk maka daya belinya akan semakin tinggi.

Regional Differences in the Price-Elasticity of Demand for Energy
Harga listrik naik maka terdapat tiga alternatif solusi yang dapat dilakukan : mengganti secara total, mencari substitusinya, dan  meminimalisir penggunaan listrik. Kenaikan demand dapat dipengaruhi oleh kenaikan income, income meningkat konsumen dapat saja membeli peralatan elektronik baru sehingga meningkatkan penggunaan listriknya(demand). Elastisitas dipengaruhi dengan adanya barang substitusi dan barang komplementer. Untuk kasus  jika harga listrik naik, maka dalam jangka pendek elastisitasnya bersifat inelastis karena untuk sementara waktu konsumen tidak memiliki pilihan hanya dapat mencoba menghemat atau mengurangi penggunaan listrik dan belum banyak barang substitusinya sehingga konsumen tidak memiliki pilihan lain selain tetap menggunakannya. Dan dalam jangka panjang, elastisitasnya bersifat elastis karena mungkin saja telah ditemukan inovasi – inovasi baru yang dapat menjadi subsitusi listrik.

Life Insurance Demand Determinants

Saat terjadinya krisis ekonomi, permintaan akan asuransi di Asia bersifat elastis. Hal ini disebabkan adanya krisis, maka perekonomian terganggu dan mengurangi pendapatan masyarakat di Asia. Rendahnya pendapatan membuat mereka mengutamakan untuk konsumsi.Maka perubahan harga asuransi akan sangat mempengaruhi jumlah permintaan akan asuransi.
Kemudian, dengan adanya perbaikan ekonomi setelah adanya  krisis membuat pendapatan masyarakat asia terus meningkat dan memiliki pendapatan yang cukup tinggi sehingga membuat standar hidup masyarakat semakin tinggi dan makin sadar akan pentingnya asuransi. Dengan demikian, permintaan terhadap asuransi pasca krisis ekonomi hinggga kini bersifat inelastic, atau perubahan harga asuransi tidak akan terlalu mempengaruhi jumlah permintaannya.

Rokok di Amerika Serikat

Rokok itu bersifat inelastis sehingga menaikkan pajak dan dapat menghasilkan banyak pendapatan di Amerika Serikat. Namun, dengan adanya internet, konsumen dapat membeli rokok dari negara lain atau secara online sehingga konsumen tidak perlu membayar pajak kepada negaranya. Tingkat elastistasnya juga meningkat dari -1,28 menjadi -2,09 walaupun pajak sudah di naikkan 33%. Maka dapat disimpukan bahwa pajak rokok tdak sensitif terhadap permintaan rokok di Amerika Serikat.

Pentingnya Relatif Harga & Kualitas Pilihan Penyedia Layanan Konsumen : Kasus Mesir

Berdasarkan asumsi penyedia terlibat dalam persaingan harga, misalnya elastisitas kualitas meningkat, maka penurunan harga kemungkinan besar dicapai dengan efisiensi. Tapi kalau permintaannya inelastis, persaingan harga dapat menyebabkan kualitas yang rendah. elastisitas pendapatan pengeluaran perawatan kesehatan > 1 , dimana itu berarti bersifat elastis. Ini berarti seiring dengan bertambahnya pendapatan, maka porsi dari pendapatan juga akan lebih besar untuk pergi ke pelayanan kesehatan. Tetapi hal ini tidak berlaku rata pada seluruh kalangan masyarakat, walaupun rata-rata masyarakat memang lebih responsive terhadap peningkatan kualitas, ini dikarenakan ada dua golongan income masyarakat.

Perusahaan Bahan Bakar di Swiss

Efek jangka panjang yang akan terjadi adalah kemungkinan pendapatan substansian dalam  biaya transportasi terutama dalam harga BBM membuat orang bereaksi mengatur jarak tempuh dan mengubah jenis mobil dan memilih mesin yang lebih kecil atau lebih hemat bahan bakar seperti mobil hibrida/ diesel. Untuk jangka panjang, elastisitas harga bensin berkisar antara -0,14 sampai -0,54 dan diesel 0,32. diesel disini merupakan bahan pengganti yang disebabkan oleh responden yang mengganti mobil BBMnya jadi mobil diesel. Harga BBM naik tidak berarti menaikan atau menurunkan permintaan dari BBM tersebut, masyarakat lebih melihat efisiensi dari penggunaan bahan bakar yaitu dengan menggantinya dengan diesel.

Determinants of Indonesian Palm Oil Export: Price and Income Elasticity Estimation

Indonesia adalah produsen dan eksportir terbesar minyak sawit di dunia karena berhasil menguasai 46% pangsa pasar minyak sawit dunia. Sebagian besar dari produksinya diekspor. Sehingga, memperkirakan elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan untuk ekspor minyak sawit Indonesia sangat penting. Elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan ekspor minyak sawit Indonesia adalah inelastic baik untuk jangka pendek dan jangka panjang.
Inelastis pada minyak sawit terjadi karena:
1.       Efek barang substitusi terhadap perubahan harga tidak terlalu besar
2.       Pilihan produk-produk lainnya sebagai barang pengganti jumlahnya tidak banyak

THE IMPACT OF FOOD PRICES ON CONSUMPTION: A SYSTEMATIC REVIEW OF REASERCH ON THE PRICE ELASTICITY OF DEMAND FOR FOOD

Fenomena yang terjadi di Amerika adalah elastisitas permintaan harga pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat. Maka diberlakukan pajak pada makanan tidak sehat dan subsidi pada makanan sehat agar tingkat konsumsi pada makanan sehat.  Dengan pemberlakuan subsidi terhadap harga buah buahan dan sayur mayur menyebabkan penurunan harga sebesar 10%, dan berhasil meningkatkan permintaan akan buah dan sayur sebesar 7,0% untuk buah dan 5,8% untuk sayur, besarnya penurunan harga rupanya tidak meningkatkan permintaan secara signifikan sehingga harga buah dan sayur dikatakan inelastis. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa walaupun subsidi telah diberikan, pada kenyataannya tidak dapat meningkatkan peningkatan permintaan secara signifikan disebabkan gaya hidup masyarakayt amerika yang lebih menyukai makanan tidak sehat seperti makanan cepat saji.

Trade Liberalization and Labor Demand Elasticity in Indian Manufacturing

Elastisitas permintaan tenaga kerja di industry India meningkat karena adanya liberalisasi perdagangan. Hal itu berdasarkan survei tahunan data industri pada 1980-81 ke 1997-98 dan tren dalam elastisitas dianalisa menggunakan data 1973-74 ke 2003-04. Hal ini juga dikuatkan oleh hasil ekonometrik penelitian yang serupa, dan menunjukan bahwa liberalisasi perdagangan memiliki dampak positif pada elastisitas permintaan tenaga kerja di industry india. Elastisitas permintaan tenaga kerja di industri pascareformasi lebih rendah dalam hal ini ialah minimumnya lapangan pekerjaan yang tidak dapat meresap semua labor maka dari itu tingkat labor mengalami kenaikan pada masa pascareformasi. Hal ini disebabkan karena ukuran yang signifikan untuk liberalisasi perdagangan dan melemahnya kekuasaan serikat buruh.
Diposting oleh Unknown di 2/16/2012 10:03:00 PM 0 komentar
Label: Teori Ekonomi 2
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod